Kapolresta Banyuwangi Ajak Penyuluh Agama Merawat Peradaban

Kapolresta Banyuwangi Ajak Penyuluh Agama Merawat Peradaban

BANYUWANGI (tribratanews.jatim.polri.go.id) – Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan aparat serta penegakan hukum. Nilai spiritual, peran keluarga, dan kehadiran penyuluh agama di tengah masyarakat menjadi fondasi penting dalam membentuk kehidupan sosial yang damai dan beradab.

 

Gagasan tersebut menjadi pembahasan utama dalam talk show Ngopi Wedang bertema “Membangun Kesadaran Spiritual yang Moderat Menuju Masyarakat Berperadaban” di Aula MAN 1 Banyuwangi, Rabu (26/8/2026). Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H., hadir sebagai narasumber tunggal di hadapan para penyuluh agama Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

 

Dalam dialog tersebut, Kapolresta mengajak peserta melihat peradaban secara lebih luas. Kemajuan sistem pemerintahan, budaya, hukum, dan kehidupan sosial memang menjadi bagian dari perjalanan manusia, tetapi tidak seluruh perkembangan itu selalu melahirkan sesuatu yang patut dibanggakan.

 

Menurutnya, kemajuan zaman perlu berjalan beriringan dengan nilai spiritual serta kemampuan berpikir logis dan rasional. Keduanya tidak untuk dipertentangkan, melainkan digunakan secara seimbang agar masyarakat mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah moral.

 

“Anak dapat diibaratkan seperti kertas putih. Pendidikan, lingkungan, dan pola pengasuhan akan memberikan warna dalam kehidupannya. Dari keluargalah manusia yang beradab mulai dibentuk,” ujar Kombes Pol Rofiq.

 

Dijelaskan bahwa keluarga, khususnya orang tua, memegang peran awal dalam membentuk cara anak berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan lingkungan. Ketika fondasi tersebut dibangun dengan baik, anak akan lebih siap menghadapi perkembangan sosial maupun teknologi tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan.

 

Peran penyuluh agama juga dinilai semakin penting karena persoalan keamanan saat ini tidak hanya muncul dalam bentuk gangguan fisik. Konflik sosial, penyebaran informasi yang menyesatkan, provokasi, serta perilaku tidak bertanggung jawab di ruang digital membutuhkan pendekatan yang menyentuh kesadaran masyarakat.

 

Ketua Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia Kabupaten Banyuwangi, H. Andi Mikoyanto, S.Sos.I., M.M., menegaskan bahwa pemeliharaan kamtibmas merupakan tanggung jawab bersama. Para penyuluh dari berbagai agama memiliki posisi strategis untuk menjaga kerukunan sekaligus mencegah berkembangnya persoalan di tengah umat.

 

Ia juga mengingatkan bahwa nilai keimanan tidak hanya diwujudkan melalui hubungan antarmanusia, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan. Merawat alam menjadi bagian dari tanggung jawab moral yang perlu terus disampaikan kepada masyarakat.

 

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., menyoroti pentingnya etika dalam menggunakan media sosial. Cara seseorang berinteraksi di ruang digital dinilai turut mencerminkan karakter dan kualitas dirinya.

 

Para penyuluh agama kemudian didorong untuk hadir di ruang-ruang sosial yang belum banyak tersentuh pembinaan. Pendekatan tidak cukup dilakukan kepada masyarakat yang sudah aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi perlu menjangkau kelompok serta lingkungan yang memiliki potensi persoalan lebih besar.

 

Selain dialog bersama Kapolresta, peserta menyaksikan dokumentasi perjalanan kegiatan IPARI Banyuwangi periode 2024–2026. Rangkaian acara juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim dari kalangan siswa MAN 1 Banyuwangi.

 

Pertemuan tersebut membuka ruang kolaborasi antara kepolisian, Kementerian Agama, lembaga pendidikan, dan penyuluh agama dalam menjaga kehidupan sosial Banyuwangi. Pesan yang dibawa tidak berhenti pada penguatan spiritualitas, tetapi diarahkan menjadi sikap nyata dalam keluarga, lingkungan, ruang digital, dan kehidupan bermasyarakat.(hms/mbah)